KPK Patut juga Geledah Institusi Pers

Maret 14, 2010 at 6:13 pm Tinggalkan komentar

SEBELUM Anda membaca opini yang satu ini, perkenankanlah hamba sebagai rakyat jelata bangsa Indonesia terlebih dahulu untuk bersujud syukur. Demi rasa hormat dan salut saya kepada lembaga independen Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) yang telah mendatangi gedung MPR/DPR di Senayan, sehingga membuat mereka (anggota DPR) yang biasa bersafari dan sering melakukan sidang yang katanya membahas menyangkut soal rakyat menjadi kebakaran jenggot atas kedatangan KPK.

Rasa haru dan bangga saya ini disebabkan menetesnya air mata saya yang mengalir tiada henti. Mungkin pembaca akan bertanya, why? Ya, karena di saat negeri ini diduduki oleh para koruptor, baik yang masih menjabat maupun sudah tidak lagi menjabat di institusi pemerintahan maupun swasta, ternyata kita masih dikaruniai seorang khalifah yang berani untuk menyucikan bangsa Indonesia ini dari tikus-tikus berdasi (koruptor). Bagi saya KPK sebagai lembaga independen, kini telah mulai menjalankan fungsi kontrol sesuai dengan tugas yang diembannya. Meskipun apa yang diamanatkan rakyat untuk KPK masih belum semaksimal mungkin memberantas para koruptor-koruptor kelas kakap lainnya.

Yang menjadi pertanyaan batin saya di sini adalah, mengapa sebuah lembaga KPK saja yang berhasil mengendus para koruptor-koruptor tersebut? Kenapa bukan media yang mengendus para koruptor terlebih dulu? Lalu apa fungsi dari seorang wartawan, reporter, jurnalis, or what ever do you call it, yang ditugaskan oleh seorang redaktur di salah satu departemen, lembaga maupun intitusi pemerintahan maupun swasta? Bukankah mereka seharusnya menjadi “watch dog” atau anjing penjaga?

Untuk itu, pertanyaan di atas seharusnya kita simak bersama-sama. Apakah media yang ada selama ini berada di tangan ataupun di depan mata kita juga melakukan korupsi, sehingga media tersebut tidak berani melakukan kabar yang benar untuk dipublikasikan kepada masyarakat? Seperti yang dikutip oleh koran nasional beberapa bulan lalu, bahwasanya banyak iklan yang berada di tangan media nasional maupun lokal menaruh harapan, agar perusahaan-perusahaan tersebut tidak tercium bau bangkai kebusukannya. Atau bisa jadi, para pebisnis juga menaruh saham di salah satu institusi pers yang sudah harum nama medianya di tengah-tengah masyarakat , sehingga institusi pers itu sendiri bungkam.

Dan sepatutnya mulai dari sekarang, KPK juga harus menginterogasi media nasional maupun lokal untuk menyeret para pelaku bisnis, termasuk para jurnalis maupun organisasi pers lainnya yang disinyalir menerima suap dari nara sumber maupun para pelaku perusahaan yang melakukan korupsi. Apalagi kebebasan media mendapatkan sebuah informasi ini telah dibuka oleh masa kepresidenan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang tercantum dalam UU No. 40/1999 hingga sampai sekarang, sehingga banyak media berdiri dengan bebasnya.

Sepatutnya pula, kita juga tidak boleh memandang dengan sebelah mata sebuah institusi pers yang baru berdiri karena masyarakat atau nara sumberlah yang memberikan sebuah nilai kinerja media tersebut patut atau tidak layaknya dikonsumsi oleh masyarakat. Terlebih lagi mereka (masyarakat) mengharapkan sebuah media yang benar-benar independen, seperti halnya surat kabar yang pernah diberedel pada masa orde baru: tabloid Detik dan surat kabar Indonesia Raya. Di mana dalam pemberitaan surat kabar Indonesia Raya pada masa orde baru itu menyeret Ibnu Sutowo (mantan Dirut Pertamina), salah satu keluarga cendana yang melakukan korupsi untuk dijebloskan ke dalam penjara.

Kalau saja media-media sekarang mencontoh media yang seperti dulu, mungkin keberadaan KPK tidak berfungsi lagi di tengah-tengah bangsa Indonesia. Sebaliknya, jika media sekarang tidak berani memberikan kabar yang sebenarnya, sudah sepatutnya KPK diharapkan untuk memberantas para koruptor yang menjabat di negeri ini, termasuk salah satu di antaranya adalah di media yang kini jumlahnya mencapai ratusan.

Meminjam istilah cendekiawan dulu: Kami berpikir, maka kami ada, itulah mahasiswa.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Bir Pletok Yang Saya Kenal AMSI : Security Itu Harus Berkualitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SAVE PALESTINA


FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION


Maret 2010
S S R K J S M
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rated

Blog Stats

  • 12,410 hits

Tuker Link

Link to us, we did link you back :

Kolom blog tutorial

Kolom blog tutorial

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Pembaca Blog-Ku

      

Heru Lianto       

Chatt With Me

                   

Save Gaza


%d blogger menyukai ini: