AMSI : Security Itu Harus Berkualitas

Maret 14, 2010 at 6:17 pm 1 komentar

Profesi security selama ini dianggap sebagai pekerjaan yang kurang diminati oleh para pencari kerja. Security dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan masyarakat. Citra security di masyarakat sebagai pekerjaan rendahan, pekerjaan yang tidak memiliki jenjang karir. Benarkah demikian?

Satuan pengamanan adalah mitra Polri yang mengemban fungsi kepolisian sesuai UU Kepolisian No 2 Tahun 2002. Tanggung jawab security sangat besar di bandingkan dengan pekerjaan lainnya. Tugas security adalah menjaga ketertiban, memberikan keamanan dan kenyamanan serta pelayanan kepada karyawan, tamu dan masyarakat di lingkungan kerjanya.

Anggapan miring terhadap pekerjaan security di banding dengan tanggung jawabnya yang begitu besar, perlu mediasi khusus agar kualitas security di Indonesia dapat lebih profesional. Karena itu Asosiasi Manager Security Indonesia (AMSI) menjembatani dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang security. Berikut petikan wawancara Ketua Umum Asosiasi Manager Security Indonesia (AMSI), A Azis Said SE,  saat saya bertandang di kantornya. (29/4).

Mengapa security masih dianggap sebelah mata?

Di Indonesia ini orang yang merekrut security secara benar dengan merekrut security sembarangan sama saja, contohnya perusahaan security merekrut security dengan persyaratannya, mulai dari usia, pendidikan, tinggi badan, tes kesehatan jasmani, psikotes, tes narkoba, wawancara setelah itu dididik selama satu bulan untuk mengikuti Basic Training (Gada Tama). Dilain pihak, ada orang kaya yang ingin punya security di rumahnya maka dia merekrut orang sekitarnya syaratnya asal mau saja cukup, lalu besuk dibelikan seragam di Pasar Senen, tanpa dididik, besuk jadilah security. Keduanya sama-sama bernama security. Ketika disandingkan antara yang direkrut dengan benar dan yang direkrut tanpa persyaratan dan pendidikan, namanya sama, yaitu security, dengan seragam sama putih biru. Inilah yang membuat nama security itu jadi tidak baik. Jika ini terus dibiarkan maka nama security akan terus seperti sekarang kurang mendapat perhatian. Saya punya obsesi security harus dibedakan dengan satpam.

Apa yang membedakannya?

Bisa saja syarat dan sistim perekrutannya, pendidikannya, bayarannya, seragamnya bahkan kalau perlu namanya juga perlu dibedakan. Security juga memiliki status kepegawaian yang jelas karena melekat di perusahaan sedangkan Satpam tidak. Kalau bisa dibedakan antara Security dan Satpam, maka AMSI akan mudah meningkatkan profesionalismenya dan pekerjaan security akan menjadi profesi. Kalau sudah menjadi profesi, maka pekerjaan tsb akan membanggakan bagi anggotanya dan dihargai oleh masyarakat. Karena itu kami berharap ada Peraturan Pemerintah (PP) khusus tentang Security yang merupakan penjabaran dari Undang Undang No 2 Thn 2002. Kalau dilihat secara jumlah personilnya yang sudah besar, yaitu lebih dari 500.000 orang seluruh Indonesia dan security kan beda dengan Pamswakarsa yang lain, rasanya sudah perlu dibuat aturan tersendiri.

Bagaimana peran AMSI selama ini?

Sebagai elemen penting dalam sebuah industri, AMSI memiliki peran yang strategis dalam pengembangan Security di Indonesia kearah yang lebih profesional, untuk itu, AMSI melakukan langkah mempromosikan ke perusahaan-perusahaan agar securitinya diwajibkan mengikuti Basic Training Gada Pratama. Memberikan masukan kepada Mabes Polri untuk merubah beberapa peraturan tentang security maupun perubahan kurikulum pendidikan security. Membantu Mabes Polri dalam mengawasi pelaksanaan peraturan security di lapangan. Menjalin hubungan baik dengan pemangku kepentingan bidang security baik dtingkat lokal maupun regional, seperti Polri, TNI, Media, DPR, dan Depnaker, sedangkan regional dengan Asean Professional Security Association (APSA) serta mengadakan benchmarking keluar negeri agar kita tahu kemajuan atau kebaikan security negara lain.

Apa saja yang menjadi faktor dasar pembentukan security guard yang profesional?

Ada tiga faktor yakni Attitude (perilaku), Knowledge (pengetahuan), dan Skill (keterampilan). Ketiga faktor dasar ini harus dimiliki oleh seorang security mulai dari Perekrutan, Pendidikan dan Pembinaan secara terus menerus baik di kelas maupun di lapangan.

Bagaimana Bapak menilai security di negara tetangga?

Saya sudah keliling ke beberapa negara di Asia, misalnya Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia. Saya melihat yang paling bagus pendidikannya jika dilakukan sesuai dengan prosedur dan mekanismeyang benar, Indonesia yang terbaik. Karena pendidikan di Indonesia ditempuh selama satu bulan, sedangkan Malaysia hanya tiga hari pendidikan, di Thailand tiga hari juga, di Filipina lumayan baik yaitu setengah bulan, namun di Filipina, orang tidak bisa menjadi security kalau tidak memiliki sertifikat dari Kepolisian Filipina.

Kalau di Indonesia, security di bawah kepolisian. Bagaimana di negara-negara tersebut?

Di Filipina, security berada di bawah kepolisian sebagaimana di negeri kita, di Malaysia di bawah menteri Keselamatan Dalam Negeri satau level dengan polisi posisinya, sedangkan di Thailand di bawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagamana Bapak melihat pengawasan yang dilakukan oleh kepolisian terhadap Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP)?

Mengapa perlu ada ijin BUJP, karena diperlukan pengawasan.Pengawasan seharusnya dilakukan polisi secara lebih ketat lagi, tapi mana bisa mengawasi perusahaan security yang jumlahnya tidak terkendali, sampai saat ini sudah ada sekitar 670 BUJP. Menurut saya BUJP perlu dibatasi jumlahnya seperti di Filipina satu perusahaan BUJP hanya diperbolehkan memiliki anggota maksimal 1000 orang. Pembatasan ini untuk memudahkan pengawasan dan menjaga kualitas perusahaan securityl.

Bagaimana upaya untuk meningkatkan sumber daya security?

Sesuai Peraturan Kapolri No Pol. 24 Tahun 2007 tentang Sistem Manajemen Pengamanan Perusahaan/Instansi Pemerintahan, bahwa setiap petugas keamanan (Security Guard) wajib mengikuti Basic Training Security pola 232 jam (Gada Pratama). Untuk Komandan Regu/Komandan Peleton, Basic triningnya dinamakan Gada Madya dengan pola 160 jam pelajaran ,sedangkan untuk Chief Security atau Manager Security, Basic trainingnya dinamakan Gada Utama dengan pola 100 jam pelajaran.

Siapa yang berhak melatih dan memberikan Sertifikat?

Yang punya kewenangan secara hukum melatih pendidikan Gada Pratama dan Gada Madya adalah Binamitra setiap Polda, tempatnya biasanya di SPN, dan BUJP yang memiliki ijin pendidikan dari Mabes Polri. Sedangkan pendidikan untuk Chief dan Manager Security, yaitu Gada Utama, penyelenggaraannya dikoordinasikan dengan Mabes Polri. Ini yang Pak Awal tidak setuju . Untuk Sertifikat, yang berhak mengeluarkan hanya Binamitra atas nama Kapolda dan Kabag Kamsaan Karo Bimmas. Kalau ada pihak lain yang melatih dengan caranya sendiri, boleh saja tapi dalam rangka meningkatkan kompetensi saja, bukan untuk memperoleh sertifikat Gada Pratama, Gada Madya dan Gada Utama.

Terkait banyaknya model seragam security, menurut Bapak?

Mengenai seragam dalam tiga tahun terakhir telah menjadi isu yang cukup sering dibahas. Pada Tahun 2005 saya pernah membuat Rapat koordinasi dengan BUJP dan para manajer security di sebuah hotel, dan kami menyepakati bahwa seragam yang ada sekarang yaitu PDH ( biru putih), PDL (biru-biru) dan Safari Biru, tetap dipertahankan. Tapi dalam kenyataannya masih banyak yang mengenakan baju yang berbeda-beda. Sebenarnya kami dengan Pak Awaloedin Djamin sudah berkali-kali mengharap kepada kepolisian agar lebih tegas dalam masalah ini. Mabes Polri memang sudah menyampaikan bahwa BUJP yang melanggar aturan seragam security, ijinnnya tidak akan diperpanjang, tapi kenyataannya saya belum pernah tahu ada BUJP yang diberikan sangsi oleh Mabes Polri. Kalau Perusahaan non BUJP yang melanggar sanksinya belum ada, mungkin KTA nya saja tidak diberikan.

Apa rencana ke depan AMSI?

Ada beberapa program yang akan kami selenggarakan, di antaranya Seminar & Pameran Indosecurity pada tgl 17 sd 19 Juni 2009 ; membuat Perpustakaan Security ; merancang Sertifikasi Profesi Security, baik Security Guard, Supervisor maupun Manager. Selain itu kita juga akan membuat AWARD untuk executive perusahaan yang memiliki komitmen besar terhadap bidang security, karena bagaimana pun juga maju tidaknya security di perusahan sanagt tergantung pada komitmen pimpinan perusahaan tersebut.

Selain itu, kami sedang menjalin kerjasama dengan Kajian Ilmu Kepolisian UI dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) untuk merencanakan pendidikan dasar yang bersifat formal dan terakreditasi untuk para manajer security, yang di Indonesia pada umumnya tidak punya background pendidikan security.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

KPK Patut juga Geledah Institusi Pers Polri Harus Hargai Hak Sekuriti

1 Komentar Add your own

  • 1. ady alfarizi  |  Maret 20, 2011 pukul 3:16 pm

    setuju…maju terus security indonesia…wat AMSI makasih dah memperjuangkan hak kami anggota security.(blh gak tanya2 hak anggota security?)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SAVE PALESTINA


FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION


Maret 2010
S S R K J S M
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rated

Blog Stats

  • 12,410 hits

Tuker Link

Link to us, we did link you back :

Kolom blog tutorial

Kolom blog tutorial

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Pembaca Blog-Ku

      

Heru Lianto       

Chatt With Me

                   

Save Gaza


%d blogger menyukai ini: